Skip to content
Dari Parkesin hingga Bioplastik: Mengenal Sejarah Plastik

Dari Parkesin hingga Bioplastik: Mengenal Sejarah Plastik

Plastik merupakan salah satu produk sintetis yang memiliki sejarah amat panjang. Pada mulanya, plastik ditemukan pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu solusi. Sayangnya, kini sampah plastik justru memenuhi berbagai penjuru bumi dan membutuhkan penanganan serius.

Urusan sampah plastik di Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh bahan plastik. Sebelum Anda memulai upaya bijak plastik secara konsisten untuk menangani masalah plastik sampah, sebaiknya Anda juga memahami sejarah panjang perkembangan plastik berikut ini.

Asal Usul Nama Plastik

Selama satu setengah abad terakhir, para peneliti berupaya membentuk senyawa sintetis dengan berbagai bahan, mulai dari selulosa (zat pembentuk dinding sel tanaman) hingga atom karbon yang jumlahnya sangat melimpah. Kata plastik (plastic) awalnya berarti “lentur dan mudah dibentuk” (pliable and easily shaped). Penggunaan nama tersebut akhirnya berkembang dan dimanfaatkan untuk menyebut senyawa polimer sintetis yang bersifat kuat, ringan, dan fleksibel. Penemuan senyawa polimer plastik sangat berguna karena dapat dimodifikasi untuk menghasilkan sifat-sifat yang berbeda.

Parkesin: Plastik Pertama yang Dibuat Tahun 1856

Jauh sebelum berkembang menjadi sampah plastik yang tersebar di seantero dunia, plastik pertama ditemukan pada tahun 1856 oleh seorang ahli kimia Inggris bernama Alexander Parkes. Kala itu, senyawa plastik pertama temuan Alexander dikenal dengan nama parkesin. Plastik pertama ini terbuat dari resin semi-sintetis yang bahan campurannya terdiri dari gading gajah. Popularitas parkesin semakin menanjak karena sempat dipamerkan sebanyak dua kali, yaitu pada Pameran Internasional London tahun 1862 dan Pameran Universelle of Paris tahun 1967.

Plastik Polimer Sintetis Pertama Ditemukan Oleh John Wesley Hyatt

Sebuah perusahaan besar di New York pernah mengumumkan tantangan untuk menemukan bahan pengganti parkesin milik Alexander Parkes. Tantangan tersebut diadakan untuk mengatasi keterbatasan pasokan gading gajah yang makin langka sehingga produksi parkesin dari bahan tersebut dianggap tidak ramah lingkungan. Akhirnya, hadiah tantangan senilai senilai USD 10.000 tersebut membuat seorang juru ketik Amerika bernama John Wesley Hyatt merasa tergugah.

Saat itu, Hyatt berhasil memproduksi plastik dari hasil rekayasa serat kapas dan kapur barus yang diberi nama seluloid. Produk hasil rekayasa tersebut menghasilkan plastik yang kualitasnya tidak kalah dengan bahan-bahan alami seperti gading gajah, kulit penyu, dan tanduk hewan lainnya. Setelah melakukan serangkaian percobaan dengan seluloid, akhirnya Hyatt mematenkan temuan tersebut pada tahun 1869.

Kemunculan seluloid sebagai bahan dasar plastik membuat produk plastik tak lagi dibatasi oleh faktor alam. Bahkan, saat itu seluloid diiklankan sebagai bahan penyelamat bagi kelangkaan kulit penyu dan gading gajah karena hewan-hewan tersebut tak perlu diburu untuk memenuhi kebutuhan manusia. Seluloid juga mulai banyak digunakan dokter gigi untuk menggantikan karet vulkanisasi yang harganya jauh lebih mahal.

Pengembangan Plastik Baru yang Disebut Bakelite

Plastik sintetis pertama yang tidak menggunakan bahan-bahan dari alam ditemukan oleh Leo Baekeland pada tahun 1907. Jenis plastik baru yang diberi nama bakelite tersebut awalnya bertujuan untuk menggantikan shellac (lak), isolator listrik alami yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Amerika Serikat. Bakelite tidak hanya bersifat sebagai isolator yang baik. Ternyata plastik sintetis pertama ini juga memiliki kelebihan lainnya, yaitu lebih tahan panas, tahan lama, dan ideal untuk mekanisme produksi massal. Bakelite dipasarkan dengan julukan “bahan seribu kegunaan” yang bisa dibentuk menjadi berbagai jenis produk.

Keberhasilan John Wesley Hyatt dan Leo Baekeland mendorong sejumlah perusahaan kimia besar untuk berinvestasi di bidang penelitian polimer baru. Proses penelitian polimer baru tersebut bertujuan menghasilkan bahan sintetis yang lebih berkualitas dan berpotensi mendatangkan keuntungan besar. Sayangnya, minat besar terhadap penelitian polimer baru tersebut justru menjadi awal dari masalah sampah plastik yang kini sedang butuh perhatian khusus.

Plastik Terus Berkembang dari Waktu ke Waktu

Peristiwa Perang Dunia II ternyata juga menjadi momentum penyebaran plastik ke seluruh penjuru dunia. Pada masa Perang Dunia II, ekspansi industri plastik secara besar-besaran di Amerika Serikat merupakan suatu kewajiban karena keberhasilan industri plastik dianggap setara dengan keberhasilan militer. Tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang semakin langka membuat produksi produk-produk sintetis menjadi prioritas.

Pada tahun 1935, Wallace Carothers berhasil menemukan nilon yang disebut sebagai sutra sintetis. Penemuan nilon pun langsung dimanfaatkan untuk kepentingan perang, yaitu sebagai bahan baku parasut, tali, pelapis helm, tameng pelindung tubuh, dan beragam produk lainnya. Penemuan lainnya berupa plexiglas juga menjadi bahan alternatif kaca untuk jendela pesawat.

Produksi plastik di Amerika Serikat mengalami peningkatan drastis sebanyak 300% selama masa Perang Dunia II. Sebuah artikel di Majalah Time menyatakan bahwa plastik telah beralih ke era penggunaan baru dan kemampuan adaptasi plastik pun kembali diperlihatkan. Lonjakan produksi plastik tetap berlanjut ketika Perang Dunia berakhir. Masyarakat Amerika Serikat siap berbelanja lagi dan mayoritas barang belanjaannya terbuat dari plastik.

Menurut seorang penulis bernama Susan Freinkel, plastik menantang bahan tradisional dan berhasil memenangkan berbagai pangsa pasar. Keberadaan plastik dianggap mampu menggantikan baja pada mobil, kemasan yang terbuat dari kaca atau kertas, serta penggunaan kayu untuk bahan dasar furniture. Plastik dianggap mampu bertahan di masa depan karena komponen penyusunnya murah, aman, dan dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan manusia.

Kekhawatiran Tentang Plastik Mulai Tumbuh

Citra kesempurnaan plastik ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa tahun pasca Perang Dunia usai, ada pergeseran persepsi di Amerika Serikat yang mengubah pandangan positif tentang plastik. Puing-puing plastik di lautan pertama kali terdeteksi pada tahun 1960-an. Pada dekade tersebut, masyarakat Amerika Serikat mulai menyadari tentang masalah pencemaran lingkungan.

Buku bertajuk Silent Spring yang ditulis Rachel Carson pada tahun 1962 mengungkap tentang bahaya pestisida kimia. Pada tahun 1969, insiden tumpahan minyak dalam jumlah besar terjadi di kawasan lepas pantai California. Masalah lainnya juga terjadi di Sungai Cuyahoga, Ohio, yang tercemar hingga akhirnya mengalami kebakaran. Sejumlah masalah lingkungan tersebut juga membuat para pengamat khawatir terhadap bahaya yang ditimbulkan sampah plastik.

Di sisi lain, kegundahan terhadap dampak buruk plastik juga tercermin melalui perkembangan bahasa. Kata plastik semakin sering digunakan untuk menyebut sesuatu yang bersifat murah, tipis, atau palsu.

Plastik Menimbulkan Masalah Sampah dan Kesehatan

Reputasi plastik merosot drastis pada dekade periode 1970-an dan 1980-an karena penggunaan plastik diduga memicu pemborosan. Kemunculan produk plastik sekali pakai tentu menghasilkan sampah yang mencemari lingkungan dan sangat sulit terurai. Pada tahun 1980-an, industri plastik mulai menawarkan inovasi daur ulang sebagai solusi. Sejumlah gerakan besar mendorong masyarakat untuk aktif mengumpulkan plastik sampah supaya plastik tersebut bisa didaur ulang.

Sayangnya, upaya daur ulang plastik tersebut masih jauh dari kata sempurna karena sebagian besar sampah plastik masih berakhir di tempat pembuangan. Beberapa kota di Amerika Serikat mulai memberlakukan larangan penggunaan plastik sekali pakai. Aktivis lingkungan juga giat mengawasi penjualan kantong plastik di toko kelontong. Masalah limbah plastik yang semakin masif digambarkan dalam Great Pacific Garbage Patch berupa pusaran sampah plastik seukuran Kota Texas yang mengapung di Samudera Pasifik.

Masalah lain yang ditimbulkan oleh plastik juga terjadi di bidang kesehatan. Para peneliti menemukan fakta tentang bahaya zat Bisphenol A (BPA) yang digunakan dalam proses pembuatan plastik. Zat tersebut ditambahkan untuk menghasilkan plastik yang teksturnya lebih fleksibel, transparan, dan tahan lama. Sayangnya, BPA terbukti bisa larut dari plastik kemudian rentan masuk ke air minum, makanan, atau tubuh. Dalam dosis tinggi, kontaminasi BPA dalam tubuh bisa mengganggu sistem hormon manusia dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis, termasuk kanker.

Memprediksi Masa Depan Plastik

Meskipun sampah plastik menjadi masalah lingkungan yang butuh penanganan serius, tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan plastik sangat penting untuk mendukung gaya hidup modern. Kehadiran plastik memungkinkan pengembangan smartphone, komputer, alat-alat kedokteran, dan sejumlah produk lainnya. Komponen plastik yang ringan dan bisa berfungsi sebagai isolator dapat meminimalkan penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi.

Plastik juga terbuat dari bahan baku yang murah dan sangat mudah didapat. Tanpa kehadiran plastik, kemungkinan besar banyak barang yang hanya bisa dibeli oleh orang-orang dari kalangan ekonomi atas. Bahan plastik mempermudah masyarakat modern untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Beragam manfaat plastik tersebut mendorong para peneliti untuk menciptakan produk plastik yang lebih ramah lingkungan, yaitu bioplastik. Bioplastik terbuat dari bahan dasar tanaman sehingga lebih ramah lingkungan dan mudah terurai dibandingkan plastik sintetis. Para inovator lainnya juga berusaha menemukan proses daur ulang yang lebih efisien. Bukan mustahil bila suatu saat plastik bisa diolah menjadi bahan dasarnya kembali, yaitu bahan bakar fosil. Plastik memang bukan material yang sempurna. Namun, kehadirannya telah menjadi bagian erat dari gaya hidup masyarakat dunia.

Yuk, Bahu-Membahu Mengatasi Sampah Plastik di Indonesia!

Sama seperti negara-negara lain, Indonesia juga mengalami permasalahan sampah plastik yang kian parah. Bahkan, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Upaya menanggulangi sampah plastik bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat tanah air. Anda bisa berkontribusi mengurangi sampah plastik di Indonesia melalui beberapa cara sederhana berikut ini:

  • Meminimalkan penggunaan kemasan plastik berupa kantong kresek untuk membungkus atau membawa sesuatu. Sebagai gantinya, Anda bisa menggunakan tas daur ulang berbahan kain, besek dari bambu, atau material lainnya yang bertekstur kuat dan dapat digunakan berulang-ulang kali.
  • Menyetorkan sampah plastik berupa kemasan (botol, pouch, dan sachet) ke bank sampah yang lokasinya paling dekat dengan tempat tinggal.
  • Menyiapkan wadah (tumbler dan kotak makan) ketika membeli makanan dan minuman sehingga Anda tidak menambah jumlah sampah plastik dari kemasan sekali pakai. Anda juga dapat mengajarkan hal ini kepada anak agar anak-anak terbiasa membawa wadah makanan dan minuman saat beraktivitas di sekolah.
  • Mengajak anggota keluarga untuk membuat karya dari bahan-bahan daur ulang. Kemasan plastik yang diolah secara tepat bisa dijadikan produk baru dengan nilai guna tinggi, misalnya kemasan pouch diolah menjadi tas atau payung serta pemanfaatan botol plastik untuk membuat pot tanaman.

Kini, Anda juga bisa berpartisipasi dalam gerakan Yuk Mulai Bijak Plastik yang digagas Rinso dan Unilever. Gerakan tersebut berkomitmen untuk menangani masalah plastik sampah secara serius di seluruh daerah di Indonesia. Langkah bijak plastik akan membantu meminimalkan sampah plastik sekaligus menanggulangi dampak buruk pencemaran lingkungan yang semakin meluas. Jadi, jangan tunggu lama-lama untuk bergabung dengan gerakan Yuk Mulai Bijak Plastik. Klik dulu website yukmulaibijakplastik.com untuk mendapatkan informasi selengkapnya.

Sumber:

bpf.co.uk/plastipedia/plastics_history/Default.aspx

sciencehistory.org/the-history-and-future-of-plastics

tecnofer.biz/en/history-of-plastic/

Yukmulaibijakplastik.com