Skip to content
7 Fakta Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Kandidat Penerima Nobel

7 Fakta Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Kandidat Penerima Nobel


Mengatasi pencemaran lingkungan tak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Faktanya, cara mengatasi sampah plastik justru bisa dilakukan secara sederhana dan konsisten agar hasilnya maksimal. Usia muda juga bukan halangan untuk melakukan penanggulangan sampah plastik. Hal ini sudah dibuktikan oleh Greta Thunberg, seorang aktivis pemerhati lingkungan berusia 15 tahun.

Di usia yang masih sangat muda, Greta Thunberg menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah pencemaran lingkungan dan berhasil menyita perhatian dunia. Ingin tahu fakta-fakta menarik tentang sosok Greta Thunberg? Inilah ulasannya!

Greta Thunberg Adalah Pengidap Sindrom Asperger

Pada tahun 2015, diagnosis dokter menyatakan Greta Thunberg mengidap sindrom Asperger. Sindrom tersebut merupakan bentuk autisme ringan yang membuat pengidapnya sangat cerdas, berbakat, tetapi pemalu. Kendati demikian, pengidap sindrom Asperger biasanya mampu mengingat berbagai hal secara detail. Inilah yang membuat Greta selalu teringat dengan film tentang pencemaran lingkungan yang pernah diputar di sekolahnya. Gambaran mengerikan tentang pencemaran lingkungan membuat Greta termotivasi menanggulangi masalah tersebut secara konkret.

Mengenal Isu Perubahan Iklim Sejak Usia 8 Tahun

Greta Thunberg mengenal isu perubahan iklim sejak usia 8 tahun. Saat itu Greta sangat sedih dan terkejut karena tidak banyak orang dewasa yang mempedulikan isu genting tersebut. Masalah yang sempat membuatnya depresi tersebut nyatanya menjadi titik balik kehidupannya. Sehingga Greta menjadi sosok yang aktif menyuarakan isu pencemaran lingkungan dan penanggulangan sampah plastik.

Membawa Pengaruh Baik bagi Kedua Orang Tuanya

Awalnya, orang tua Greta tidak peduli dengan isu lingkungan yang diperjuangkan buah hatinya. Namun, lama-kelamaan orang tua Greta mau mendengar dan bersedia menjalani gaya hidup khusus untuk meminimalkan pencemaran lingkungan. Ibu Greta mulai berhenti naik pesawat terbang untuk meminimalkan gas emisi. Sedangkan sang ayah memilih menjadi vegetarian edmi kelestarian lingkungan. Perlahan tapi pasti, Greta berhasil meyakinkan orang-orang di sekitarnya supaya lebih peduli terhadap masalah pencemaran lingkungan.

Pada musim panas, tepatnya 20 Agustus 2018, Greta mogok sekolah demi menyuarakan masalah lingkungan dan perubahan iklim di depan gedung parlemen Swedia. Saat itu, Greta membawa papan kayu bertulisan “Skolstrejk for Klimatet” yang artinya “Mogok Sekolah Demi Iklim”. Greta juga membuat flyer berisi informasi masalah iklim global dan membagikannya kepada orang yang berlalu lalang di depan gedung parlemen.

Mendapatkan Banyak Dukungan dari Masyarakat Swedia

Di hari pertama aksinya, Greta memang sendirian dan mendapatkan tatapan kasihan dari banyak orang. Namun, Greta tidak sendirian lagi pada hari-hari berikutnya. Banyak orang yang bergabung mengikuti aksi tersebut hingga akhirnya perjuangan Greta membuahkan hasil. Namanya mulai populer sebagai aktivitas lingkungan muda yang kemudian diundang ke berbagai acara untuk membicarakan masalah lingkungan.

Menginspirasi Gerakan Fridays for Future

Aksi kepedulian Greta terhadap lingkungan rupanya juga menginspirasi para pelajar di berbagai negara untuk melakukan gerakan serupa. Aksi yang disebut Fridays for Future tersebut dilakukan secara serentak di 100 negara sebagai bentuk protes terhadap masalah perubahan iklim dunia. Bahkan, aksi tersebut dilakukan secara reguler oleh pelajar-pelajar di negara Jepang, Belgia, Perancis, Australia, dan sejumlah negara lainnya. Gerakan masif tentang isu lingkungan ini juga sangat populer di media sosial dengan hashtag #FridaysforFuture.

Menjadi Nominasi Peraih Nobel Perdamaian Tahun 2019

Niat baik Greta menyuarakan masalah lingkungan mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Gerakan besar tersebut membuat wajahnya menghiasi sampul majalah Time. Selain itu, Greta juga dinominasikan sebagai peraih nobel perdamaian tahun 2019. Greta mengaku tak akan mundur sedikitpun dalam menyuarakan masalah lingkungan supaya semakin banyak pihak yang tergerak melakukan langkah penanggulangan secara konkret.

Sosok Greta Thunberg merupakan panutan bagi semua orang untuk berani melakukan aksi nyata dalam rangka menyelamatkan lingkungan. Itulah sebabnya Ibu tak perlu khawatir jika si kecil berani kotor-kotoran ketika membersihkan sesuatu. Ajaklah buah hati Ibu untuk mengenal berbagai cara mengatasi sampah plastik yang sederhana. Berani kotor demi kebaikan akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan peduli terhadap lingkungan. Ibu juga bisa mengajak anak-anak untuk melakukan langkah bijak plastik bersama Rinso melalui gerakan Yuk Mulai Bijak Plastik.

 

Referensi:

bbc.com/indonesia/dunia-47578903

kanya.id/read/034799/greta-thunberg-pahlawan-kampanye-perubahan-iklim-berusia-16-tahun

suara.com/news/2019/03/15/064000/siapa-greta-thunberg-remaja-16-tahun-yang-diusulkan-raih-nobel-perdamaian

theguardian.com/world/2019/mar/11/greta-thunberg-schoolgirl-climate-change-warrior-some-people-can-let-things-go-i-cant

tirto.id/masa-depan-dunia-ada-di-tangan-greta-thunberg-dan-anak-anak-ecxi

Yukmulaibijakplastik.com